PENTIL SINGKONG

Tergantung pada keikhlasan sang hamba, dan takaran rezeki yang Allah
berikan kepadanya. Bahkan bilangan itu suatu saat bisa mencapai 700 kali
lipat.
Allah Swt berfirman:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:261)

Di Cipete Jakarta Selatan. Di sebuah sekolah dasar disana, seorang pria
penjual gorengan bernama Udin (bukan nama asli) berjualan. Lonceng turun
main, kira-kira akan berbunyi sepuluh menit lagi. Ia tengah memotong
beberapa singkong untuk digoreng.
Singkong seperti kita tahu, berbentuk tabung dan berkerucut pada
ujungnya. Biasanya sebuah singkong akan dipotong lima bagian. 4 bagian
digoreng untuk dijual, sementara bagian ujung atau pentilnya disisihkan
untuk dibuang. Hari itu, Udin menggoreng kira-kira 5 buah singkong, dan
pentil singkong yang tersisa pun berjumlah 5 karenanya.

Lonceng istirahat berbunyi, para siswa pun berhamburan ke luar kelas
untuk jajan dan istirahat. Seorang anak kurus sambil menggigit jari
berdiri di ujung gerobak Udin. Anak ini tidak membeli gorengan seperti
siswa lainnya, juga tidak berbicara sepatah katapun. Naluri Udin berkata
bahwa anak ini tidak punya uang untuk jajan. Hati kecil menyuruhnya agar
5 pentilsingkong yang ada diberikan saja kepada anak itu. Maka
diambillah beberapa pentil itu. Ia masukkan ke dalam adonan tepung,
kemudian digorenglah. Setelah matang,Udin menaruhnya di atas kertas lalu
disodorkannya
kepada anak itu.

Si anak senang bukan main. Senyumnya mengembang. Udin turut bahagia
melihatnya. Belakangan, Udin tahu bahwa
anak tersebut adalah seorang yatim yang baru saja kehilangan bapak.

Kejadian pagi itu terus berulang. Udin memberikan beberapa pentil
singkongnya kepada anak yatim itu.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun hingga anak itu lulus
dari Sekolah Dasar. Udin tidak merasa berat, sebab apa yang ia berikan
kepada anak yatim itu, tiada lain adalah barang yang tiada berharga bagi
siapapun. Dalam pengalamannya berjualan, tidak ada seorang pun yang
mencari pentil singkong untuk dibeli. Bahkan bila dijual sekalipun dalam
jumlah banyak, pastilah tidak akan laku.

Udin tak berkeberatan memberikan pentil singkongnya kepada anak itu.
Bahkan untuk setiap hari!
Allah Swt akan membalas kebaikan seorang hamba bila ia membantu
saudaranya bahkan hingga 700 kali lipat!
Lebih dari 30 tahun berselang setelah anak yatim itu lulus. Saat itu,
Udin masih mengerjakan rutinitasnya setiap hari; yaitu berjualan
gorengan di sekolah dasar yang sama. Maka berhentilah sebuah mobil mewah
nan mengkilap tepat di depan gerobak Udin.

Seorang pemuda tampan turun dari mobil. Ia mengenakan setelan dan dasi
yang bermerk. Rambutnya di sisir rapi
dan mengkilat ditimpa sinar matahari.  Melihat calon pembeli dengan
mobil bagus, Udin sigap membuka pembicaraan, “Mau beli gorengan,
Den…?!”
Pemuda itu tersenyum dan berkata, “Masa akang lupa sama saya?”
Pertanyaan itu membuat Udin berpikir singkat, namun ia tidak menemukan
jawaban. Udin lalu bertanya polos, “Memangnya…, Aden ini siapa ya?”
Masih tersenyum, pemuda itu mengatakan, “Saya ini adalah anak pentil
singkong, Kang!” Mendengar itu,
Udin berucap tasbih. Rasa gembira terbit di hatinya melihat kesuksesan
anak ini. Anak pentil singkong yang
dulu kerap berdiri di pinggir gerobaknya.
“Masya Allah…. sudah sukses sekarang  ya, Den?!”

Udin bertanya sekali lagi. “Alhamdulillah, Kang!” jawab si Aden.

Udin lalu menggamit lengan si Aden, diajaknya masuk ke balik gerobak.
Udin menyorongkan sebuah kursi kecil
untuk duduk. Maka duduklah pemuda itu, sementara Udin meneruskan
pekerjaannya…. menggoreng singkong, tempe
dan lain-lain.

Sambil Udin bekerja, pembicaraan mengenai kenangan lama terulang
kembali. Keduanya merajut rasa syukur
kepada Allah Swt Yang telah melimpahkan anugerah tiada terkira.
Pembicaraan tersebut terus berlanjut hingga
berujung pada sebuah  kalimat yang diucapkan sang pemuda.

“Akang… saya ke sini mau berterima kasih!” kata si pemuda. “Atas apa,
Den?!” jawab Udin. “Berterima kasih
atas kebaikan kang Udin kepada saya. Dulu kalau gak dikasih pentil
singkong sama Akang, saya gak bakal
bisa belajar dengan tenang. Kalau belajar gak tenang, saya gak bakal
pintar. Kalau gak pintar, saya gak
bakal bisa lulus sekolah dan sukses seperti sekarang…. saya ke sini
mau berterima kasih ke kang
Udin!” kalimat yang baru diucapkan oleh pemuda begitu tersusun dan
membanggakan hati Udin. Namun Udin masih
berkelit sambil berujar, “Den… sudah gak usah dipikirkan. Apa yang
saya kasih ke Aden berupa pentil
singkong itu kan gak berharga! Ngapain pake terima kasih segala. Lagian,
kalo saya jual gak bakal ada
yang mau…!” Udin mencoba merendah dan menolak pamrih.

Pemuda masih mengejar dengan satu pertanyaan lagi, dan ini membuat Udin
menjadi bergidik. “Akang…, saya dan
istri berniat haji tahun ini. Saya ingin Kang Udin dan istri mau
menemani kami. Mau kan, Kang?”
Gemuruh rasa terjadi di dada Udin. Tidak pernah terbayang baginya akan
ada seorang hamba Allah yang
mengajaknya untuk menunaikan rukun Islam kelima. Udin pun mengiyakan,
dan pemuda itu pun pergi meninggalkan
Udin.

Udin dan istrinya berangkat haji. Seluruh biaya dan uang jajan keduanya
ditanggung oleh si pemuda.
Barangkali lebih dari Rp 60 juta yang dibayarkan olehnya. Udin dan istri
lalu berangkat ke Baitullah, menunaikan semua ritual dan kewajiban dalam
ibadah haji. Hingga ia dan istri kembali ke tanah air lagi dengan
selamat.

Sesampainya di tanah air, banyak kerabat, saudara dan tetangga datang
bersilaturahmi. Udin membagikan
oleh-oleh berupa air zamzam, kurma dan banyak lagi. Banyak orang senang
menerima hadiah tersebut. Mereka pun banyak menanyakan pengalaman Udin
dan istri selama berhaji.

Udin menjawab semua pertanyaan orang yang datang sebisanya. Hingga saat
ada seseorang yang bertanya tentang bagaimana caranya kang Udin dapat
berhaji bersama istri padahal usahanya hanya sekedar menjual gorengan.

Rupanya… banyak yang belum tahu dengan cara apa Udin berangkat haji.
Dan memang, ia merahasiakan hal itu
selama ini. Udin pun menjawab seadanya, “Dulu…, saya sedekah pentil
singkong kepada seorang anak yatim, eh
gak taunya dengan sedekah itu saya dan istri berangkat haji. Kalo tahu
begini, coba dulu saya sedekah singkong beneran sama tuh anak…!”

Udin mencoba berkelakar dengan jawabannya, dan hal itu membuat hadirin
tertawa terbahak mendengarnya. Dalam
hati, Udin bersyukur kepada Allah Swt Yang Sungguh menepati janji kepada
dirinya. Sungguh Allah Swt Maha
Kuasa untuk membalas amal seorang hamba, bahkan hingga 700 kali lipat
atau lebih dari itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s