Adakah Dzat Allah ?

Bismillahirrohmaanirrohiim, Assalamu’alaykum Wr.

Wb..

Sebelumnya mohon maaf kalau sudah ada yang

pernah tahu/baca tulisan ini….

Adanya banyak pemahaman apakah Dzat Allah itu

ada, bagaimana wujud-Nya, bagaimana kuasa –

Nya dll yang berbeda beda membuat perdebatan

tersendiri tentang Tuhan. Sebagai landasan

berpikirnya akal kita juga harus berpedoman

terhadap kaidah kaidah pokok dalam berakidah.

Menurut Syeik Ali Ath Thanthawi dalam kitabnya

yang berjudul ” Ta’riif ‘Aam bi Diinil Islam”

disebutkan bahwa kaidah kaidah pokok dalam

berakidah adalah sbb :

Imam Abu Hanifah berdebat dengan seorang yang

atheis, dia menanyakan ” Apakah anda percaya

bila saya katakan ada sebuah kapal dengan

muatan yang penuh di tengah tengah ombak besar

lautan ia tetap bisa berlayar dengan baik meskipun

tanpa nahkoda ? Orang atheis itu pun menjawab “

Tentu tidak percaya”. Nah, begitu pula dengan

alam semesta ini, bagaimana mungkin alam

semesta ini yang sangat luas dapat berjalan

sangat teratur dengan sendirinya ? tentulah ada

yang menciptakannya, kata Imam Abu Hanifah.

Di waktu lain Syeikh Abu Hammad diundang oleh

orang orang atheis yang ingin berdebat dengannya

periha “Dzat Allah”. Karena sesuatu hal Syeikh

Abu Hammad memerintahkan mruidnya, Imam Abu

Hanifah untuk memenuhi undangan kelompok

orang atheis tersebut. Percakapan pun dimulai.

Orang Atheis : “Tahun berapa tuhan engkau

diciptakan ?”

Imam Abu Hanifah : ” Tuhan tidak dilahirkan, kalau

tuhan dilahirkan tentunya dia punya ayah dan ibu,

lam yalid wa lam yuulad”.

Orang Atheis : “Tahun berapakah tuhan muncul ?”

Imam Abu Hanifah : ” Tuhan ada sebelum adanya

waktu dan penanggalan, Tuhan lah yang

menciptakan waktu”.

Orang Atheis : “Kami minta contoh kongkrit”.

Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum

empat ?”

Orang Atheis : ” Tiga”.

Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum

tiga ?”

Orang Atheis : ” Dua”.

Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum

dua ?”

Orang Atheis : ” Satu”.

Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum

satu ?”

Orang Atheis : ” Tidak ada “

Imam Abu Hanifah: Jika dalam ilmu hitung saja

tidak ada sebelum satu, bagaimana dengan satu

hakiki adanya tuhan ? Sesungguhnya Dia lah yang

permulaan dan yang akhir”.

Orang Atheis : “Kemanakah arah Tuhan

menghadap?”

Imam Abu Hanifah:” Jika kita menghadapkan

sebua lampu di dalam kegelapan, maka ke arah

manakah cahaya lampu itu?”

Orang Atheis : ” Ke semua arah “

Imam Abu Hanifah : ” Begitulah , juka cahaya yang

dibuat oleh manusia saja seperti itu bagaimana

dengan cahaya langit dan bumi?”

Orang Atheis : ” Bagaimana bentuk Dzat Tuhan,

apakah dia seperti air, besi atau seperti asap ?”

Imam Abu Hanifah : “Pernahkah anda melihat

orang sakratul maut dan meninggal ? apakah yang

terjadi ?”

Orang Atheis : “Keluarnya ruh dari jasad “.

Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana bentuk ruh ?”

Orang Atheis : “Kami tidak tahu”

Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana kita bisa

menjelaskan ruh Dzat Tuhan, sementara ruh

ciptaan -Nya saja anda tidak tahu”.

Orang Atheis : “Lantas di tempat manakah tuhan

berada ?”

Imam Abu Hanifah : “Kalau kita menyuguhkan

susu segar, maka di dalam susu itu adakah

minyak samin ?”

Orang Atheis : “ya.

Imam Abu Hanifah : ” Dimanakah letak minyak

samin ?”

Orang Atheis : “Minyak samin itu bercampur

menyebar di dalam kandungan susu”.

Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana aku harus

menujukkan dimana Allah berada, kalau minyak

samin yang ciptaan manusia saja tidak dapat anda

lihat dalam kandungan susu itu ?”

Orang Atheis : “Jika semua yang ada dunia ini

sudah ditakdirkan, lalu apa yang dikerjakan Tuhan

sekarang ?”

Imam Abu Hanifah : ” Menunjukkan apa yang telah

diciptakan -Nya, meninggikan derajat sebagian

manusia dan merendahkan sebagian manusia

lainnya.

Orang Atheis : ” Jika waktu permulaan masuknya

manusia ke surga ada, mengapa tidak ada akhir

waktunya “

Imam Abu Hanifah : ” Bukankah ilmu hitung yang

kita kenal ada awalan, namun tidak ada

akhirannya ?”

Orang Atheis : ” Jika di surga diceritakan ada

selalu ada makan – seperti di dunia sekarang ini,

kenapa tidak ada buang air besar atau buang air

kecil ?”

Imam Abu Hanifah : “Bukankah selama 9 bulan di

kandungan janin selalu makan melalui darah ibu,

dan tidak buang air besar atau air kecil ?

Orang Atheis : ” Bagaimana mungkin kenikmatan

makanan di surga tidak akan habis selamanya ?”

padahal terus menerus dimakan “.

Imam Abu Hanifah : ” Bukankah kalau ilmu yang

diamalkan tidak membuat kita bodoh, justeru

membuat kita lebih pintar ?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s